Kemeristekdikti Reformasi Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru

05 Mei 2017

Bagikan Twitter Kirim Via Whatsapp

Medan – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Prof.Ainun Naim PhD, MBA mengatakan, Kemenristekdikti saat ini sudah ada plan dan formula baru mereformasi sistem penerimaan mahasiswa baru.

Kedepannya, seleksi penerimaan mahasiswa baru akan dilakukan dengan sistem komputer kemudian direncanakan apakah mungkin untuk mengikuti SBMPTN  beberapa kali guna mengakomodir jika calon mahasiswa sakit, kecelakaan atau karena aspek yang lainnya.

“Tapi ini masih kita evaluasi dan belum disahkan.Saat ini sebenarnya sudah lebih dari satu kali, ada SBMPTN, SNMPTN dan seleksi mandiri kata Ainun Naim didampingi Anggota DPR RI, dr Sofyan Tan di Yayasan Perguruan (YP) Sultan Iskandar Muda,Jalan T Amir Hamzah, Kecamatan Medan Sunggal, Kamis (4/5).

Kehadiran Ainun Naim di sekolah tersebut untuk melakukan dialog interaktif bersama ratusan siswa/i SMA YP Sultan Iskandar Muda yang baru lulus.Dialog tersebut juga dihadiri Anggota Dewan Pembina YP Sultan Iskandar Muda, Felix Harjatanaya dan Ketua Yayasan, Finche SE MPsi.

Ainun mengakui, setiap tahun memang banyak terjadi kasus dalam seleksi penerimaaan mahasiswa baru seperti  orang berprestasi kemudian tidak diterima, namun yang diterima malah yang prestasinya dibawah.

“Terus terang kita memang tidak bisa intervensi secara mendetail ke perguruan tinggi karena mereka juga mempunyai mekanisme tertentu. Tapi secara nasional kami menginginkan bagaimana penyelenggaraan test penerimaaan mahasiswa baru itu dilakukan secara efisien dan nyaman,”ujar Ainun.

Saat ditanya ada berapa jumlah kampus yang di “blacklist” Kemenristekdikti saat ini, Ainun menyatakan, blacklist yang dilakukan sebenarnya sudah lama  dan ada beberapa tingkatan seperti ditutup ataupun dibina.

“Arti dibina disini adalah mana yang kurang akan kita bantu untuk memenuhinya.Tapi kalau kampus tetap melanggar maka akan kita tutup.Untuk Sumatera Utara sendiri sampai saat ini saya kira sudah tidak ada yang di blacklist.Artinya sudah ke arah perbaikan termasuk dulu ada satu atau dua kampus yang konflik sekarang sudah selesai,”ungkap Ainun.

Terkait banyaknya siswa berprestasi yang tidak lulus SBMPTN, Anggota DPR RI, dr Sofyan Tan menyatakan, hal ini sebenarnya telah dikritisi pihaknya karena tidak menunjukan keadilan.

“Ada sebagian sekolah yang sebenarnya sudah merancang bagaimana rapor siswa sejak kelas X bisa mencapai hasil yang baik sehingga jumlah siswa yang diterima menjadi lebih banyak,”tandas Sofyan Tan.

Sofyan Tan menilai, perbuatan seperti ini sebenarnya tidak adil dan fair karena sudah ada kecurangan sejak awal yang dilakukan sejumlah sekolah.”Kita tidak menuduh, tapi kecendrungan ke arah itu ada.Sebenarnya kita menginginkan SBMPTN ini dihapus karena tidak menunjukan keadilan,”tuturnya.

Sofyan Tan menambahkan, jika UNBK benar-benar sudah berlangsung dengan baik maka tentu perlu mendapat perhatian karena salah satu kriteria si anak bisa diterima di perguruan tinggi juga melalui pengkajian atau penelitian terhadap hasil UNBK tersebut. (Asiong/Foto:Tribun Medan)