Saya Tetap Ingin Jadi Ilmuwan Nuklir

03 Januari 2016

Bagikan Twitter Kirim Via Whatsapp

SIMPUL HAL 18-36-9

Di depan ratusan anak asuh dan orangtua mereka yang memenuhi Pendopo Sekolah Sultan Iskandar Muda Selasa siang (4/8), nada suara dr. Sofyan Tan, anggota Komisi X DPR RI terdengar menggeletar.

Seolah ada sesuatu yang tengah menyumbat kerong-kongan Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda itu, terutama saat ia menyebut nama Muhammad Arief Soerjakentjana.

“Terus terang saya benar-benar terharu sekaligus kagum dengan perjuangan Muhammad Arief Soerjakencana ini. Beberapa hari lalu saya ketemu dan berbincang-bincang dengan anak ini. Sekarang Arief telah berada di Yogyakarta karena diterima di Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Veteran Jurusan Agro Teknologi,”kata Sofyan Tan.

Mengambil jeda sejenak, Sofyan Tan lalu melanjutkan ceritanya.

“Arief ini sejak usia 6 tahun telah ditinggal ayahnya untuk selamanya. Ia hidup bersama ibunya. Keluarga ini miskin karena penghasilan ibunya hanya dari menjaga orang jompo, juga bantuan dari familinya. Tapi kemiskinan tak menghambat Arief untuk mengukir prestasi di sekolah Sultan Iskandar Muda.

Sejak kelas kelas 4 SD ia selalu masuk 10 besar. Waktu SMA, Arief pernah jadi Juara 2 lomba sains dan teknologi lingkungan dengan penelitiannya tentang Biogas Enceng Gondok. Bahkan ia   masuk 12 peneliti tingkat nasional bidang yang sama,”tambah Sofyan Tan.

Miskin Tapi Percaya Diri

Kemiskinan justru membuatnya belajar keras walau dengan sarana terbatas. Kemiskinan juga tak membuatnya minder. Ia terlihat percaya diri saat diajak ngobrol pada Sabtu (1/8). Hal inilah yang membuat tim penguji Sofyan Tan Scholarship memutuskan memberikan beasiswa buat Muhammad Arief Soerjakencana.

Sofyan Tan selama ini memang dikenal sebagai tokoh pendidikan yang telah banyak membantu menyekolahkan dan memberi beasiswa ke PTN bagi anak-anak dari keluarga miskin.

“Saya tentu saja senang bisa lolos seleksi Sofyan Tan Scholarship. Sebelumnya keluarga saya sudah berusaha mencari bantuan dari famili, namun uangnya tetap tak cukup juga. Puji Tuhan, kalau akhirnya saya bisa mendapat beasiswa dari Sofyan Tan Scholarship ini,”tutur Arief, yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di SMA Sultan Iskandar Muda tahun 2015 ini.

Tentang pilihannya pada Fakultas Pertanian jurusan Agro Teknologi di UPN Veteran Yogyakarta, tak terlepas dari minatnya terhadap sains dan teknologi lingkungan.

“Saya sangat berminat sekali untuk menciptakan benih padi unggul agar negara kita tak lagi mengimpor beras,”tutur Arief. Nada suaranya terdengar mantap. Sebe-narnya minat utama Arief senfiri adalah pada teknologi nuklir.

Nuklir untuk Kesejahteraan Masyarakat

“Saya ingin menjadi ilmuwan nuklir karena energi nuklir menurut saya sangat bermanfaat bagi masa depan umat manusia. Teknologi nuklir bisa dikembangkan untuk kesejahteraan madyarakat,” katanya. Pada SNMPTN (jalur undangan) lalu ia memang memilih Program Studi Teknik Nuklir UGM Yogyakarta, tapi gagal. Lalu pada SBMPTN bulan Juni, siswa kelahiran 31 Oktober 1998 itu memilih Jurusan Agro Teknologi di UPB Veteran Yogyakarta.

“Saya akui ini memang lari dari cita-cita saya, tetapi ini juga jalan saya untuk mencapai cita-cita saya,”ujar anak ketiga dari tiga bersaudara itu. Cita-cita Arief menjadi ilmuwan nuklir memang belum padam. Ia punya rencan hendak menyelesaikan kuliahnya di UPN Veteran 4 tahun. Setelah itu ia ingin mendaftar lagi ke Jurusan Teknologi Nuklir UGM.

“Kalau juga tak lolos lagi, saya tak putus asa danbtetap betusaha”, tandasnya. Tak terdengar sedkit pun nada ragu saat Arif mengungkapkan rencananya. Arief juga seolah tak maun terbebani dengan dumber biaya kuliahnya kelak kelak diterima di Program Studi Nuklir di UGM.

Sofyan Tan sendiri tersenyum simpul saat diminta komentarnya tentang tekad anak didiknya yang bersikeras ingin jadi ilmuwan nuklir itu.

“Memang ilmuwan nuklir cukup langka di negara kita. Tapi yang membuat saya terharu justru tekad Arief yang ingin mengabdikan ilmunya kelak untuk kesejahteraan masyarakat. Ia bukan anak yang egois walau keluarganya miskin,”katanya.

Ibarat Menyemai Benih di Lahan yang Tepat

Pada tahun ajaran 2015/2016, Perguruan Sultan Iskandar Muda memiliki 289 anak asuh yang tersebar dari jenjang SD sampai SMA/SMK. Sedangkan Sofyan Tan Scholarship sejak diluncurkan pada 2013 telah memiliki 8 penerima beasiswa. Mereka saat ini tengah menempuh studi di sejumlah PTN seperti USU Medan, Universitas Medan, Politeknik Negeri Medan dan Universitas pembangunan (UPN) Veteran Yogyakarta.

“Saya berharap pada tahun 2016, ada siswa anak asuh yang diterima di PTN ternama di Jawa sepeti UGM, ITB, IPB atau UI,”kata Sofyan Tan.

Kiprah program Anak Asuh Perguruan Sultan Iskandar Muda dan Sofyan Tan Scholarship yang memberi bantuan beasiswa pendidikan bagi anak-anak keluarga miskin, memang ibarat petani yang tengah menyemai bibit tanaman di lahan yang tepat. Masyarakat kelak tinggal menunggu bibit itu bersemi, tumbuh menjadi pohon dan menghasilkan buah yang bisa dipanen masyarakat.(JA)